Perjalanan (Film) Martial Arts di Indonesia – Sebuah Catatan Kecil
⊆ 12:44 PM by Innama | film martial arts . | ˜ 0 comments »Cerita berlanjut. Masih ingat posting sebelumnya yg berjudul Martial Arts, Siapa Peduli? Ternyata sang mantan tentara masih penasaran. Senin malamnya beliau tiba2 datang lagi saat admin sedang kusuk mengutak-atik tampilan html blog. Rupanya masih tak habis pikir dengan fenomena contenderasia, sambil mengungkapkan jenis beladiri yg diikutinya saat ber-dinas dulu, Silat.
Bagi anda – yang tak pernah terlibat dengan urusan beladiri (silat), apa yang terlintas di benak anda saat mendengar kata Silat? Mungkin tentang tenaga dalam. Atau nama2 pendekar dan jawara silat di tanah air. Atau mungkin IPSI, organisasi yang menjadi induk aliran pencak silat di Indonesia? Jika mendengar kata Silat, ingatan Admin langsung terbawa ke tahun 1972, saat pertama kali diajak ayah menonton film berjudul “Si Pitung” di bioskop di dalam THR – Surabaya. Film – yg dibintangi oleh (alm) Dicky Zulkarnaen, Paula Rumokoy dan Sandi Suwardi Hasan ini sangat kental dengan gaya silat Betawi.
Sebagaimana kita maklumi, dunia film (laga) memang tak terpisahkan dari dunia bela diri itu sendiri. Ada yg bilang, majunya film bertemakan martial arts di suatu Negara menunjukkan pesatnya perkembangan dunia martial arts di negara tsb. Mungkin ada benarnya. Mungkin juga tidak. Buktinya Brazil tak terdengar pernah membuahkan film laga yg spektakuler, tapi beladiri BJJ-nya mampu mengguncang dunia persilatan. Film bertemakan MA (di Indonesia) selama ini hanya menjadi pemanis tambahan dari banyak film2 misteri yg tak jelas juntrungannya – yg dibilang sejarah bukan, dibilang fiksi juga terlalu ngaco! Disesuaikan dengan selera pasar, begitu alasan sang produser. Sekali lagi, mungkin ada benarnya. Kita masih kalah jauh dengan Thailand, apalagi dibandingkan dengan Hongkong yg memang biang kerok pembuat film laga di Asia. Kini – di saat mereka membuat film laga dengan adegan fighting yg realistic, kita malah masih terbuai dengan gaya “kungfu-ketoprak” ala Fu Shen dan Chen Kuan Tay tahun 70-an. Di saat mereka membuang jauh2 adegan ‘terbang’ yg tak masuk logika, kita malah semakin meng-gebu2 menyuguhkan gambar manusia melompat dan ber-putar2 di udara. Di saat mereka mengurangi efek animasi, - weleh2, sutradara kita malah semakin gatal membubuhkan efek visual yg sangat tidak diperlukan. Sepuluh menit yg lalu (jam 20.50) saya menonton sebuah sinetron yg menggambarkan seseorang sedang berlatih kanuragan dengan dua buah pistol di tangannya. Benar2 tidak mendidik dan tidak nyambung. Mencampur-adukkan ‘kesaktian’ dengan teknologi.
Namun demikian tetap ada satu dua film laga kita yang saya yakin patut diacungi jempol. Bisa kalian sebutkan salah satunya?
Berikut adalah catatan kecil tentang film laga di tanah air dari tahun ke tahun.
Setelah Si Pitung, di tahun2 berikutnya muncul film “Si Jampang Jago Betawi” , “Pendekar Bambu Kuning”, “Si Buta dari Goa Hantu”, “Misteri di Borobudur”, dan “Panji Tengkorak”. Film “Pendekar Bambu Kuning” yg dibintangi oleh (alm) Ratno Timoer bahkan memenangi gelar Aktor Terpopuler di Asia dalam Festival Film Asia Pasifik di Seoul, Korea Selatan, tahun 1973. Sementara film “Panji Tengkorak” yg merupakan visualisasi komik gubahan Hans Djaladara dilakoni oleh Deddy Sutomo, Shan Kuang Ling Fung (artis Hongkong), Lenny Marlina dan Maruli Sitompul.
Kalau boleh jujur, tak ada yg istimewa dengan film2 di atas, apalagi kalau diukur dengan kacamata sekarang. Tetapi di masa itu, yakinlah bahwa film2 tersebut mewakili hiruk-pikuk perkembangan dan kemajuan bela diri di tanah air yang mulai merangkak dan membuka diri terhadap dunia luar. Terbukti, di tahun2 berikutnya (pertengahan 75-80) muncul film2 laga yang memadukan pemain2 asing di dalamnya. Salah satunya adalah film berjudul “Balas Dendam” yg menampilkan Chen Sing, bintang asal China yg terkenal di masa itu. Judul lain yg tak terlupakan tentu adalah “Pembalasan Naga Sakti” (produksi 1976, disutradarai Fritz G. Schadt) yg dimainkan oleh sang jagoan Kyokushin, George Rudy Harianto. Masih di periode yg sama, kota Semarang juga kedatangan seorang artis sekaligus pebeladiri asal Hongkong, Lee Chin Kun yg ikut tampil di beberapa film laga nasional seperti “Balada Dua Jagoan” (produksi 1979, main bersama Willy Dozan dan George Rudi) serta “Pukulan Bangau Putih (produksi 1977, bermain bersama George Rudi). Ada yg bilang beliau ini membawa aliran bela diri Injukan. Saya kurang paham tentang hal ini. Yang saya ingat ceritanya hanya dari seorang teman di Semarang sekitar tahun 1976). Pada dekade ini, terasa sekali percampuran antara bela diri lokal (silat) diramu dengan jurus2 impor ala kungfu atau karate. Film2 yg muncul berikutnya adalah : “Si Pitung Beraksi Kembali” (1976), “Pembalasan Si Pitung” (1977), “Pertarungan Kera Sakti” (1977) dan “Karate Sabuk Hitam” (1979) yg pernah dibahas dalam salah satu posting oleh salah seorang contributor blog ini.
Yang sulit Admin lupakan adalah film berjudul “Pertarungan Kera Sakti” – yang mendatangkan aktor Chen Kuan Tay ke kota Solo di tahun 1977. Chen dipasangkan dengan aktor laga kita, Willy Dozan. He he he … kebetulan waktu itu ikut nonton syutingnya. Willy – yg ikut bermain dalam “Si Pitung”, juga pernah mewarnai gegap gempita perfilman laga di Hongkong saat itu ketika dia dikontrak untuk membintangi beberapa judul. Tentu anda tak akan menemukan nama Dozan terpajang di tittle film2 tersebut, karena dia harus berganti nama menjadi Billy Chuang (Chong Chen Lie). Aya2 wae!
Film laga (silat) lainnya yg juga masih saya ingat di tahun 1977-an, antara lain adalah film “Duel Maut”. Film ini dibintangi oleh Stephen Lee dan Johny Kokong. Stephen dikenal sebagai aktor laga Indonesia yang berwajah mirip dengan Bruce Lee. Bahkan – konon kabarnya, seorang Betty Ting Pei-pun pernah mengamini pendapat tersebut saat berkunjung ke Indonesia. Tradisi mirip2an Bruce Lee di masa itu memang sedang hot2nya. Ini tentu pengaruh dari dirampungkannya film “Game of Death” yg ditinggal mati oleh mendiang Bruce Lee. Tak tanggung2 ada beberapa film BL looksalike yg diputar di gedung bioskop daerah, mulai dari “Finger of Fury”, “Bruce Lee and I” dan “Bruce Lee True Story” atau “Enter the Game of Death”. Ada kejadian lucu, seorang guru kami di sekolah, bahkan sempat2nya membahas film “Bruce Lee true Story” di saat sedang mengajar pelajaran PMP (Apa kabar Pak Sukirman? Semoga bapak selalu diberikan kesehatan yg baik. Amin. Hiks…..! mengenang masa lalu)
Jaman komik kembali menyeruak saat di tahun 80-an diproduksi film2 berjudul “Golok Setan” (produksi Rapi film 1983, sutradara Ratno Timoer), “Siluman Sungai Ular” dan beberapa sekuelnya yg merupakan rekaan pengarang komik Mansyur Daman (dikenal dengan nama Man pada komik silat tahun 70-an). Film2 pendekar berpedang dan bertelanjang dada ini mengangkat nama2 karateka seperti Barry Prima dan Advent Bangun. Juga ada film yg diangkat dari komik karya Djair, seperti “Jaka Sembung”.
Saat radio sedang booming dengan cerita2 silat berlatarbelakang sejarah diramu dengan cerita fiksi seperti “Satria Madangkara” dan “Tutur Tinular” di tahun 86 para produserpun tak ketinggalan. Mereka ber-bondong2 memvisualkan drama radio tersebut. Dan hasilnya ternyata lumayan spektakuler (spekulasi tapi laku keras?). Saya menilai, film2 laga kolosal yg disutradarai oleh Bung Imam Tantowi (penulis scenario film “Golok Setan”) berkolaborasi dengan El badrun (peƱata artistic) ini adalah film2 laga terbaik yg pernah ada dan dibuat di Indonesia. Baik dari segi penggarapan, special effect, film editing, sampai ke teknik2 fighting yg digunakan. Film2 laga dengan genre sejarah melambungkan beberapa nama seperti Fendi Pradana, Henky Tornando dan juga Lam ting atau Joseph Hungan.
Hebatnya, di masa itu perfilman nasional masih mampu bertahan meskipun pada akhir 1980-an, Soeharto mencabut larangan pembatasan film impor setelah Amerika Serikat mengancam akan memboikot ekspor tekstil dan kayu kita. Dan ini mengakibatkan Film Hollywood masuk dalam jumlah berlipat-lipat. Bersamaan dengan itu pula, dengan berbekal kedekatan dengan penguasa, jaringan multipleks 21 mulai memonopoli bisnis bioskop dan impor film. Film Hollywood dengan production value yang tinggi mendominasi layar bioskop. Wawasan film penonton menjadi luas. Tak lama kemudian pada tahun 1991, stasiun televisi swasta pertama, RCTI, mulai dapat ditangkap siarannya oleh masyarakat tanpa harus memiliki dekoder dengan tayangan-tayangan yang beragam, menghibur, dan gratis termasuk banyak film-film Hollywood. Ekspektasi penonton terhadap estetika film Indonesia tiba-tiba menjadi tinggi. Para pembuat film Indonesia, pada waktu itu, tidak sangggup menjawab revolusi citarasa penonton. Film Indonesia mengambil tempat duduk paling belakang. (diedit dari berbagai sumber kliping Dokumentasi film nasional).
Meski mulai tertatih, di tahun 1989, ternyata Advent Bangun dan Barry Prima masih tetap exist. Bangun bahkan masih sibuk membintangi beberapa film silat bernuansa budaya daerah waktu itu. Salah satunya berjudul “Si Mata Malaikat”. Dan saya sempat menontonnya ketika sedang di Palembang sekitar tahun 1989.





















0 Responses to Perjalanan (Film) Martial Arts di Indonesia – Sebuah Catatan Kecil
= Leave a Reply